YUKI ONNA – Legenda Perempuan (dan) Salju
13 Nov 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
Dua minggu lalu saya nonton pertunjukan teater Enjuku di Gedung Kesenian Jakarta. Ceritanya udah lama saya pengen nonton show ini, eh kebetulan di kantor ada yang nawari tiket. Alhamdulillah ngirit. Hujan yang mengguyur Jakarta malam itu pun diterabas demi nonton gratisan pertunjukan yang cuma diadakan setahun sekali.
Pentas tahun ini membawakan cerita rakyat Jepang berjudul Yuki Onna, alias perempuan salju — diterjemahkan jadi Siluman Salju karena ini harusnya jadi cerita horor. Kisahnya tentang legenda siluman perempuan cantik yang suka membunuh lelaki yang tersesat dalam badai salju. Suatu hari, si siluman ndilalah jatuh hati sama salah satu calon korbannya yang masih muda (tidak jelas apakah si pemuda mukanya ganteng, tapi jelas disebutkan dia baik hati dan rajin bekerja. Pesan moral: nilai seorang lelaki terletak pada ketekunannya, kalau perempuan pada mukanya). Kepada si cowok, siluman itu berkata ia tidak akan dibunuh asalkan berjanji untuk tidak menceritakan pertemuan itu kepada siapapun. Setelah si pemuda berjanji, siluman itu pun pergi.
Beberapa waktu kemudian, pemuda itu bertemu perempuan cantik yang dalam kesulitan. Karena kasihan, pemuda itu menolong si perempuan dan memberinya tempat tinggal. Singkat cerita, mereka jatuh cinta lalu menikah. Bukan main bahagianya si pemuda karena istrinya bukan hanya cantik, tapi juga pekerja keras dan baik hati. Begitu sayangnya si pemuda kepada si istri, ia bermaksud untuk berlaku jujur sehingga apa saja diceritakannya kepada belahan jiwanya itu. Hingga suatu hari si pemuda keceplosan bercerita tentang pertemuannya dengan siluman salju beberapa tahun sebelumnya.
“Kalau diliat2 tu cewek cakep juga lho Neng, mirip ama Eneng. Eh tunggu, bukan cuma mirip, tapi emang persis!” gitu kira2 kata si suami. Istrinya pun protes. Ya iyalah, saya juga bakal keberatan kalo disama2in ama siluman, walaupun silumannya cakep.
“Abang kan udah janji bakal ngerahasiain cerita tentang pertemuan itu sama siapapun! Sekarang karena Abang udah ingkar janji, aye mesti bunuh Abang!” katanya. Yaelah kok narasinya jadi pake dialek jakartaan gini. Anyway, ternyata si neng tak lain dan tak bukan adalah jelmaan siluman perempuan salju yang saking cintanya sama si abang sampe rela turun dari kayangan dan menjalani hidup sebagai manusia biasa. Si abang, eh si suami pun kaget, tapi apa daya nasi udah jadi bubur. Cuma si istri ternyata ga tega ngebunuh suaminya, jadi akhirnya dia memilih mengorbankan diri dengan meninggalkan orang yang dia cintai. Tinggallah si suami sendirian meratapi nasib.
Motif2 cerita kayak gini banyak ditemukan dalam cerita rakyat Jepang. Menurut teori antropologi budaya, kalau diteliti lebih lanjut dari perwatakan tokoh2nya bakal tersingkap watak masyarakat Jepang sebagai pemilik cerita itu. Tapi saya ga bakal ngebahas penelitian folklor di sini karena lagi males bikin skripsi. Saya cuma pengen berbagi lirik lagu yang jadi sountrack pementasan kali ini. Judulnya Yuki to Onna Nya Ki wo Tsukero (Hati-hatilah Pada Salju dan Perempuan). Suka bagian pembuka yang bikin ketawa, tapi bait kedua dan seterusnya lebih menarik. Terlebih kalau Anda ngerti bahasa Jepang akan lebih bisa menikmati permainan kata di dalamnya. Yang nggak ngerti, saya coba kasih terjemahan dan penjelasan. Kalau masih nggak ngerti juga, saya tidak bertanggung jawab atas kelambatan daya tangkap Anda. Makanya dingerti2in deh. Selamat menikmati!
男がこの世で怖いのは畑を覆う冬の雪
Yang ditakuti lelaki di dunia ini adalah salju yang menyelimuti sawah
Di negara agraris bermusim empat, salju adalah musuh petani. Kenapa? Jelas, karena salju membekukan tanah dan membuat sawah sulit digarap. Selain itu, suhu dingin membuat padi sulit tumbuh.
もうひとつもっと怖いのはきれいで優しいいい女
Satu lagi yang lebih ditakuti adalah perempuan cantik dan baik hati
Lho, kok takut? Bukannya lelaki justru suka sama perempuan cantik? Tenang, Saudara-saudara, penjelasannya ada di bait berikutnya:
雪と女にゃ気をつけろ、ふられた後もきれいな眺め
Hati-hatilah terhadap salju dan perempuan
Meski bikin susah, keduanya tetap indah
雪と女にゃ気をつけろ、ふられた後は仕事はお手上げ
Hati-hatilah terhadap salju dan perempuan
Gara-gara keduanya, (lelaki) jadi tidak bisa bekerja
雪と女にゃ気をつけろ、ふられた後は腑抜け男が束になる
Hati-hatilah terhadap salju dan perempuan
Kalau sudah ketemu keduanya, lelaki pengecut bakal mengerut
Kuncinya ada di kata ふられた furareta – bentuk pasif lampau dari furu. Bergantung dari konteksnya, kata furu dapat berarti turun (dalam hal salju atau hujan), bisa juga berarti mendepak atau memutuskan (dalam hal pacaran). Dalam lagu ini, kedua konteks tersebut ternyata nyambung. Ketika seseorang yuki ni furareta (dituruni salju? kesaljuan? kejatuhan salju? Ahli bahasa, tolong perbaiki terjemahan saya!) maupun onna ni furareta (diputusin cewek), kalau dia cemen, hidupnya bakal terpengaruh. Pun demikian, baik salju maupun perempuan tidak disangkal lagi adalah makhluk yang indah (*^‐^*)
Kesimpulan dari lagu lucu ini disampaikan dengan ringkas di bait selanjutnya:
ふってふられて男と女、ふってふられて雪景色
ふってふられて男と女、ふってふられて雪景色
Perempuan cantik mengganggu hati lelaki
Salju yang indah mengganggu kerja lelaki
Terakhir, ketakutan terhadap efek dahsyat salju dan perempuan cantik terangkum dalam wujud Siluman Salju. Karena itu perlu disampaikan peringatan akan bahaya dan perlunya kewaspadaan pada makhluk ini dalam penutup sebagai berikut:
雪女にゃ気をつけろ
Hati-hatilah terhadap Siluman Salju
見とれた後に息吹きかけられ
Begitu melihatnya, kau akan terhipnotis
会ったその日にあの世行き
Dan dibawa pergi ke Dunia Lain pada hari itu juga
Sebuah Catatan (Nggak Penting) Tentang Sarung
06 Nov 2011 2 Komentar
Tadi pagi saya mengikuti Sholat Idul Adha di sebuah masjid dekat kos2an yang saya pilih secara random. Ngakunya sih masjid jami’, tapi menurut saya ukurannya terlalu kecil untuk bisa disebut jami’. Lebih mirip musholla kampung, tidak ada tempat parkir, terasnya bersentuhan langsung dengan pagar yang berbatasan dengan jalan. Jamaah putri yang mau masuk harus mencopot sandalnya sejak dari luar pagar dan membiarkan alas kaki berserakan di aspal. Toh saya dengan cueknya masuk dan mengambil tempat di teras dekat pagar yang masih kosong. Dari situ saya bisa bertakbir sambil menunggu dimulainya sholat. Karena sholat Ied dimulai cukup siang, saya jadi sempat melamun sembari mengamati jamaah yang datang satu per satu ke masjid ini. Pria-wanita, tua-muda, bersarung-bercelana… Saya baru sadar, selama di Jakarta saya jarang ketemu orang pakai sarung. Di antara jamaah putra yang datang, cuma sebagian kecil yang pakai sarung — itupun rata2 sudah berumur. Di beberapa masjid daerah Jakarta yang pernah saya datangi saat sholat berjamaah pun kebanyakan jamaah lelakinya memakai celana panjang. Alhasil, di antara gema takbir saya kok jadi kepikiran pengen nulis tentang sarung. (maaf, ya Allah, tapi Engkau tahu sepanjang sholat aku samasekali tidak memikirkan sarung. Aku memikirkan mau sarapan apa — upss…)
Entah kenapa saya suka lihat lelaki bersarung. Tentunya sarung yang dikenakan dengan benar, bukan yang diselempangkan di bahu, apalagi dikerudungkan ke muka. Barangkali karena sejak kecil saya terbiasa melihat lelaki2 dalam keluarga saya bersarung setiap kali hendak ke masjid. Mungkin juga obsesi saya terhadap sarung dipicu oleh kenyataan selama di pesantren saya menyaksikan transformasi aura yang dipancarkan oleh santriwan yang tadinya kumus2 bercelana tanggung mencangkul di ladang pondok mendadak jadi agak ganteng gara2 ganti kostum ketika suara adzan memanggil. Atau kalau Anda seorang Freudian, Anda boleh berteori bahwa sifat alami sarung sebagai produk fashion yang serbaguna (selain sebagai pakaian ibadah, pengganti bawahan mukena, bisa juga dikenakan sebagai rok sementara, selimut, dipakai ke kamar mandi, jadi kantong cucian, atau pengganti koper ketika pindahan) mengirim pesan ke alam bawah sadar saya bahwa lelaki bersarung juga multitasker. Yang jelas, kalau sore2 saya melihat lelaki bersarung naik motor melintas di jalan raya, somehow rasanya marem kayak di kota santri.
Selagi online, iseng2 saya googling tentang sarung. Kata Om Wiki, istilah sarung mengacu pada sepotong kain lebar yang dijahit pada kedua ujungnya sehingga berbentuk seperti tabung. Ini adalah arti dasar yang berlaku di Indonesia dan sekitarnya. Dalam pengertian yang lebih umum, sarung berarti kain lebar yang pemakaiannya dibebatkan pada pinggang untuk menutup pinggang ke bawah. Penyebaran pemakainya ternyata sangat luas, mulai dari Asia Tenggara, kepulauan Pasifik, Asia Selatan, hingga Afrika. Bahkan pada periode tertentu dalam sejarah Indonesia, sarung tidak hanya berfungsi untuk menutup aurat tapi juga sebagai antitesis dari setelan jas dan celana untuk menyimbolkan perlawanan terhadap penjajah.
Saya punya kenangan masa kecil dengan sarung. Almarhum kakek dari pihak ayah dalam ingatan saya selalu pakai sarung hampir sepanjang hari. Bahkan kadang2 beliau nggak ganti celana kulot hitam (saya menyebutnya celana silat karena suka mengkhayal kakek saya mantan pendekar) saat pergi ke kandang ayam untuk memberi makan unggas kesayangannya. Beliau mencuci dan menjemur sarung dengan caranya sendiri. Sarung dibentangkan kemudian diselipkan dua batang bambu; yang satu dikaitkan ke palang jemuran, satunya lagi digantungkan melintang. Dengan demikian, saat kering sarung jadi licin tanpa disetrika. Sampai sekarang saya ingat, siang2 kalau saya bermain di belakang rumah dan mendapati sarung kakek yang sudah kering melambai2 kaku tertahan bambu, saya suka menggoyang2kan bambu itu dengan heboh sambil berpura2 sarung kakek adalah layar kapal yang dihantam gelombang. Terkadang kalau cuaca cukup terik, saya memasukkan kepala ke dalamnya dan membayangkan berada di sebuah lorong panjang yang teduh dengan seberkas cahaya di ujung satunya. Tolong jangan mikir jorok. Itu hanya sarung di jemuran, dan saya hanya anak SD yang polos.
Aaanywaaayyy… Agak mengherankan bahwa banyak frasa dalam bahasa Indonesia menggunakan kata sarung yang sebenarnya kurang mewakili makna harfiah dari sarung itu sendiri. Ada sarung tangan, sarung bantal, sarung tinju, sarung pistol… semua “sarung” itu tidak berupa kain yang dijahit berbentuk pipa sebagaimana definisi asalnya, melainkan lebih mirip kantong yang hanya terbuka di salah satu sisi. Yang lebih parah, penyebutan kondom sebagai sarung pengaman untuk mencegah kehamilan. Cuma kepikiran aja: bukannya kalau pakai sarung malah risiko kehamilan lebih besar? Lagian kalau kondom berbentuk seperti sarung, sudah jelas tujuan fungsionalnya tidak tercapai. Mungkin pantesnya pake istilah “karung pengaman” kali ya…
Bus AKAP ‘Patas Ekonomi’ Di Jepang
02 Jun 2011 Tinggalkan sebuah Komentar
in gado-gado jepang Tag:jalan-jalan di jepang
Kalau boleh memilih, saya lebih suka naik kereta daripada bus. Berbeda dengan transportasi di jalan raya yang kecepatannya tergantung kondisi kepadatan kendaraan, kereta punya jalur sendiri sehingga ketepatan waktunya relatif bisa dipercaya. Buat saya tidak masalah berdiri berdesakan di dalam kereta pada jam-jam sibuk sebab betapapun padatnya, kereta tetap jalan. Selama tinggal di Tsukuba yang begitu mungil sehingga media transportasi umum dalam kota yang tersedia hanya bus dan taksi (sampai saat ini Tsukuba tidak dilalui jalur kereta lokal kecuali TX, itupun didesain untuk perjalanan ekspres Tsukuba-Tokyo sehingga sulit disebut lokal juga), saya selalu menanti2 saat liburan, sebab saat itulah saya bisa keluyuran keluar kota naik kereta.
Pertama kali saya naik bus malam pas liburan musim semi 2009 waktu kembali dari Kobe ke Tokyo. Sebenarnya sih awalnya tidak sengaja. Saya berangkat naik kereta dengan tiket 18 Kippu dan berniat kembali dengan cara yang sama, tapi karena ada keperluan mendadak saya mesti cari kendaraan yang lebih praktis dan nyaman untuk jarak jauh. Teman saya menyarankan JR Highway Bus. Meski kurang suka naik bus, saya ambil saja karena pilihan lainnya, shinkansen, harga karcisnya 2 kali lipat. Seperti diduga, begitu memasuki Tokyo, jalan bus yang tadinya ngebut jadi tersendat2 akibat macet. Tapi sepanjang perjalanan di luar kota, mata saya dimanjakan oleh pemandangan alam yang breathtaking. Karena kebetulan saya dapat tempat duduk di tingkat dua deret tengah paling depan, pemandangan itu langsung terpampang jelas di depan mata sehingga sayang kalau sampai ketiduran (padahal biasanya begitu naik kendaraan saya langsung teler kayak dibius). Rasanya kayak nonton film 3D di bioskop, hehehe… Di luar dugaan, secara keseluruhan pengalaman naik bus itu mengasyikkan dan malah membuat saya penasaran. Mulailah saya mencari2 tahu lebih banyak soal bus AKAP ini lewat internet.
Ternyata bukan cuma JR yang punya bus cepat. Ada pula beberapa perusahaan swasta yang menyediakan bus antarkota murah meriah, cocok untuk perjalanan jauh berorientasi prinsip ekonomi. Secara umum baik bus JR maupun non-JR sama-sama mensyaratkan pembelian tiket in advance alias tidak bisa nodong di tempat. Kalaupun bisa, biasanya jatuhnya lebih mahal. Jadi tidak ada yang namanya petugas melayani jual beli tiket dengan penumpang yang tiba2 muncul pas jam keberangkatan, apalagi menaikkan penumpang di tengah perjalanan walaupun kursi sudah penuh. Terus, biasanya tempat duduk diatur sedemikian rupa sehingga terdapat deret khusus penumpang perempuan, jadi para perempuan yang bepergian sendirian tidak merasa risi karena harus menghabiskan sepanjang malam dengan duduk di sebelah lelaki bukan muhrim. Tempat duduk telah ditentukan dan para penumpang diabsen satu per satu sebelum masuk bus. Suasananya mirip dantai ryokou alias rekreasi grup, kayak studi tur sekolah, kecuali para penumpang satu sama lain tidak saling kenal. Ini ciri lain bus jarak jauh di Jepang. Satu lagi yang mungkin sulit ditiru oleh bus di tanah air adalah punctuality alias ketepatan waktu. Sedari awal sebelum berangkat, petugas sudah mengumumkan lama jarak tempuh, jam dan tempat2 berhenti di rest area sekaligus durasinya, dan memohon pengertian penumpang bahwa akurasi jadwal tersebut tergantung kondisi di lapangan. Kalaupun misalnya dirasa tidak mungkin tiba di tempat tepat waktu, petugas akan sesegera mungkin memberi pengumuman, penyebabnya, dan minta maaf atas keterlambatan dan ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Kesamaan lainnya, baik bus JR maupun non-JR sama2 lewat jalan tol (maksud saya jalan tol sungguhan, yang di kedua sisinya dibangun dinding peredam dengan desain sedemikian rupa agar kebisingan lalu lintas tidak mengganggu perkampungan penduduk sekitar namun sekaligus tidak menghalangi pemandangan) bukan jalan raya utama dalam kota seperti lazimnya bus patas di kampung kita. Pokoknya apapun nama penyelenggara jasanya, bus AKAP Jepang samasekali tidak mengkhianati sebutannya (dalam bahasa Jepang disebut bus cepat (kousoku basu = 高速バス), dalam versi Inggrisnya orang Jepang pakai istilah highway bus).
Kalau menginginkan bus yang enak dengan tempat duduk luas, toilet, dan fasilitas tambahan seperti selimut dan sandal slipper, JR Highway Bus bisa jadi pilihan. Bus yang menyediakan trayek untuk siang dan malam ini tiketnya bisa dipesan baik lewat internet maupun lewat agen perjalanan seperti JTB. Bus JR yang double decker, di tingkat atas tempat duduknya deret tiga masing2 satu kursi. Mau tidur menggelosor dengan tangan terlentang pun tidak akan mengganggu tetangga sebelah. Sebagai produk dari BUMN yang bergerak di bidang transportasi, bus JR memang lebih mbois daripada bus biasa, namun tentu saja pelayanan berbanding lurus dengan harga.
Kalau punya waktu berlimpah tapi budget terbatas, bisa search bus dengan tarif lebih murah <a href=http://domestic.bus.travel.yahoo.co.jp/>di sini</a> Tinggal masukkan tempat berangkat, tujuan, serta tanggal keberangkatan yang diinginkan, akan muncul berbagai alternatif bus malam dengan harga dan fasilitas bervariasi. Pada umumnya fasilitas tidak selengkap bus JR (beberapa tidak dilengkapi dengan toilet), tapi untuk ukuran saya yang selama enam tahun pernah terbiasa naik bus dengan kadang2 berdiri berdesakan dari terminal Purabaya sampai bundaran tol Gempol, kenyamanan yang ditawarkan bus2 tersebut lebih dari cukup. Selisih tarifnya pun cukup terasa. Sebagai perbandingan, bus JR jurusan Osaka-Tokyo memasang tarif mulai 6000 yen, sedangkan bus biasa dari Kobe (sebelah barat Osaka) ke Tokyo ada yang hanya 4000 yen. Cara pembayarannya juga sangat praktis: setelah memesan tiket, kita akan mendapat kode pemesanan yang dikirim lewat e-mail. Setelah itu tinggal pergi ke konbini terdekat, masukkan kode2 tadi, cetak tanda konfirmasi yang ada barcodenya, lalu bawa ke kasir untuk di-scan dan bayar. Selesai. Kemudahan seperti ini adalah satu dari sekian alasan saya menumbuhkan hobi menggelandang di negeri sakura.
Satu lagi yang khas dari bus2 malam murah meriah ini adalah mereka biasanya memilih tempat berkumpul yang tidak masuk akal: lantai B1 atau underground gedung anu, jam besar di depan kantor administrasi kota, atau petunjuk simpel saja: pintu selatan stasiun X. Tempat berkumpul (shuugou basho = 集合場所) tidak selalu dekat dengan tempat mangkal bus. Hanya Tuhan yang tahu kenapa orang harus repot2 turun dan berkumpul di ruang bawah tanah bila bus yang akan ditumpangi telah siap menunggu di pinggir jalan raya. Karena malas mencari sendiri, biasanya saya sih cukup mendekati kerumunan dengan ransel, koper, atau travel bag dan bertanya pada petugas (bisa dikenali dari kaos seragamnya) apakah benar tempat itu yang dimaksud dalam e-mail konfirmasi yang saya terima. Orang Jepang jarang yang pakai cara ini, soalnya mereka rajin cari tahu sendiri, tidak pernah lepas dari peta, DAN tidak buta huruf seperti saya
Jadi kalau Anda berniat jalan2 hemat di Jepang, tidak ada salahnya mencoba bis patas ala Jepang ini. Dalam perjalanan bus akan berhenti di beberapa rest area sehingga penumpang bisa turun untuk ke toilet, membeli minuman & makanan kecil di convenience store, atau sekedar berjalan2 meluruskan kaki dan menghirup udara segar. Rest area ini biasanya berlokasi di tepi jalan tol dengan latar belakang pemandangan alam yang memesona – bonus besar untuk perjalanan Anda yang tak terlupakan. Dan jangan khawatir: soal servis Jepang terkenal nomor wahid sedunia. Bahkan bus termurah pun tidak mengorbankan komitmen terhadap ketepatan waktu sehingga tidak akan membuat Anda kehilangan waktu di jalan dengan sia-sia.
Menggelandang di Jepang (III)
25 Sep 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in traveling Tag:jalan-jalan di jepang
Sapporo
Setelah seharian main di Aomori, malamnya kami naik kereta menyeberang menuju pulau Hokkaido. Karena kami tidak memesan shiteiseki alias kursi bernomor, jadinya mesti duduk di gerbong jiyuuseki (kursi bebas). Kami termasuk cukup beruntung dapat kursi walaupun tidak bersebelahan; tidak sedikit penumpang lain yang lesehan karena kurang cepat mencari tempat duduk. Bapak2 di sebelahku orangnya ramah dan berbaik hati mengajariku cara merebahkan sandaran kursi, tapi tidak berapa lama dia tertidur pulas sehingga aku tolah-toleh sendirian tanpa teman ngobrol. Daripada bengong, akhirnya ikutan tidur juga, hihihi… ^^
Konon, jalur kereta yang menghubungkan Honshu-Hokkaido dibangun di bawah laut. Penasaran, Vindy dan saya bertekad untuk tidak tidur dan saling mengingatkan kalau sudah masuk terowongan. Tapi kami berdua malah sama2 tepar juga sehingga ketika terbangun tahu2 kereta sudah di Hakodate. Masih jauh perjalanan ke Sapporo, mau tidur lagi nggak bisa, jadinya mati gaya. Ketika akhirnya tiba di stasiun Sapporo keesokan paginya, Vindy kelihatan begitu lelah dan kepingin sendiri, jadi kami sepakat jalan sendiri2 dan bertemu lagi di taman. Sementara travel mate saya keluyuran entah ke mana, saya menghabiskan pagi itu dengan berjemur di bangku taman sambil menghabiskan sarapan tidak sehat: keripik kentang sisa kudapan di kereta.
Terus terang saya tidak punya bayangan mau melakukan apa di Sapporo. Kota ini, meski termasuk 10 kota terbesar di Jepang, tidak punya kastil peninggalan abad pertengahan seperti kota2 besar lain di pulau Honshu. Saya baru tahu sedikit tentang sejarah Sapporo ketika mengikuti kuliah Geografi Jepang. Katanya Sapporo dibangun dengan memanfaatkan tenaga narapidana sebagai bagian dari hukuman mereka. Terus, karena musim panas di Hokkaido udaranya sejuk, kondisinya kurang cocok untuk bercocok tanam sehingga jarang ada orang mau tinggal di sana. Sampai ketika Restorasi Meiji di mana orang ramai2 belajar macam2 ilmu Barat, barulah mereka menyadari potensi lain yang dimiliki Hokkaido. Sejak saat itu orang mulai datang dan menetap di wilayah ini sehingga berkembang seperti sekarang. Barangkali itulah sebabnya sentuhan Barat begitu terasa di sini, setidaknya terlihat dari arsitektur bangunan2 utamanya yang tampak modern.
Tapi trivia tentang Sapporo justru saya dapat dari seorang backpacker yang tiba2 muncul dan mengajak ngobrol. Mula2 backpacker yang sudah bapak2 itu menanyakan letak Jam Sapporo yang jadi salah satu ikon kota itu. Saya menjawab tidak tahu karena saya sendiri baru menjejakkan kaki di Sapporo beberapa menit sebelumnya. Eh, beliau malah duduk di sebelahku dan mengajak ngobrol macam2. Menurut pengakuannya, beliau dari Hyogo dan telah melakukan perjalanan darat keliling Jepang selama musim panas ini. Beberapa hari sebelumnya beliau nonton Tanabata Matsuri di Sendai, yang merupakan festival Tanabata terbesar se-Jepang, lalu masih sempat ke Aomori untuk menyaksikan Nebuta Matsuri, festival kebanggaan warga Aomori sebelum tiba di Sapporo.
“Tahukah kamu apa tempat wisata yang terkenal di Sapporo?” tanyanya. Saya menggeleng polos.
“Tidak ada!” katanya bersemangat. “Itulah sebabnya, untuk menarik wisatawan mereka menciptakan sesuatu yang khas di sini. Tahu apa itu?”
Lagi2 saya menggeleng.
“Makanan. Orang Sapporo mempromosikan kekayaan kulinernya sebagai daya tarik wisata. Ada banyak makanan enak di sini, tapi yang terkenal yaitu ramen.”
Tahu ramen kan? Itu, salah satu mie Jepang yang diadopsi dari Cina. Seumur hidup saya ga pernah coba karena kebanyakan kuahnya dibuat dengan kaldu babi. Saya jadi bertanya2 dengan hasil lautnya yang terkenal kaya, apakah Sapporo punya menu ramen seafood? Sayangnya saya nggak sempat mencari tahu.
“Jajanan pinggir jalan juga enak. Sebentar lagi, kira2 jam 9 atau 10-an, di sekitar taman ini banyak penjual jagung bakar dan rebus. Jagung di sini lebih enak dari di tempat lain.”
Saya termakan omongannya. Ketika Vindy kembali, saya membujuknya untuk jajan jagung rebus di PKL yang mangkal di sekitar taman itu. Selain pengen membuktikan kebenaran info dari bapak tadi, perut juga lapaaaaar…
Walhasil, hari pertama di Sapporo hanya diisi dengan jalan2 seputar kota, blusukan pusat perbelanjaan di dekat stasiun, dan mengamati aktivitas warga lokal. Anak2 muda Sapporo ternyata tidak kalah dengan rekannya di Tokyo soal ekspresi kreativitas. Mereka juga suka main skateboard, bermusik, atau sekedar kongkow di taman. Yang unik, ketika menyeberang di lampu merah perempatan, orang Sapporo suka memotong jalan secara diagonal. Mula2 saya pikir cuma satu-dua orang saja, ternyata beberapa kali di beberapa titik perempatan saya menemui hal seperti itu. Bagaimana mereka bisa melakukannya dengan perhitungan tepat tanpa ketabrak mobil sungguh misteri buat saya.
Hari itu ditutup dengan makan malam di sebuah warung mirip izakaya yang sudah saya incar sedari siang. Menu pilihan saya ikan goreng, yang digoreng begitu renyah sehingga memakannya membuat saya bahagia, dan bisa tidur nyenyak untuk mengembalikan tenaga buat menyambut perjalanan berikutnya…
Menggelandang di Jepang (II)
25 Sep 2009 1 Komentar
in traveling Tag:jalan-jalan di jepang
Aomori-Hirosaki
Selama perjalanan menuju Aomori, bus sempat berhenti di rest area di wilayah Iwate. Saya segera melompat turun dan menghirup udara subuh dengan rakus. Setelah paru-paru penuh terisi oksigen segar, barulah saya menyadari di hadapan saya tersaji salah satu karya Tuhan yang membuat saya terpana, yaitu pemandangan yang sempat saya potret berikut ini:



Rasanya ketinggalan bus di sini pun saya rela. Tapi perjalanan mesti berlanjut. Kami tiba di stasiun Aomori pada pukul 8.30 pagi waktu setempat. Stasiun Aomori terletak di kota Aomori, ibukota prefektur Aomori, prefektur paling utara di Jepang. Kata ‘utara’ asosiasinya ‘dingin’, dan benar saja, begitu turun dari bus langsung terasa betapa nyamannya musim panas di daerah ini. Sayangnya meskipun dikatakan ibukota, tidak banyak objek wisata menarik di kota ini. Kami masuk ke Tourist Information Center yang terletak di seberang stasiun, meminta beberapa brosur, dan mencoba searching lewat komputer yang disediakan di sana, tapi tidak menemukan tempat yang kelihatannya asyik. Pencarian diperluas ke wilayah di sekitar kota Aomori dan menemukan Hirosaki, kota yang dikatakan oleh profesor saya layak dikunjungi karena bernilai sejarah. Kalau mau jalan2 ke Hirosaki, harusnya kami turun di perhentian sebelum stasiun Aomori. Karena baru memutuskan mau ke sana setelah tiba di Aomori, artinya kami harus naik kereta balik, kira2 satu jam lamanya. Tidak apalah, namanya juga bolang. Toh kami punya banyak waktu untuk dibuang2 selama liburan ini ^^
Hirosaki terkenal dengan apel, ikon produk kebanggaan Aomori. Di sana juga

patung pembawa apel di depan stasiun Hirosaki
ada sebuah perguruan tinggi bernama Hirosaki Daigaku, universitas yang untuk sebuah alasan yang tidak saya ingat sempat saya perhitungkan untuk dipilih ketika dinyatakan lulus tes wawancara Japanese Studies tahun 2006. Meskipun tidak masuk peringkat sepuluh universitas terbaik di Jepang, setidaknya suasana kotanya nyaman. Begitu duduk di salah satu bangku taman Hirosaki castle, saya memutuskan saya jatuh cinta pada kota ini. Hirosaki jelas berbeda dengan Tsukuba; kota ini jauh lebih tua dan bersejarah (ditandai oleh adanya kastil dan perumahan lawas yang selamat dari gempuran Perang Dunia II) serta berperadaban (ada jalur kereta api JR—patokan yang dengan semena2 saya tentukan sendiri untuk menyebut sebuah kota benar2 kota). Buat saya yang tidak tertarik dengan gemerlap kota modern dan terobsesi dengan Jepang jaman lawas, tempat ini kelihatannya cocok. Tapi mungkin juga tidak. Melihat teman2 nikkensei dari Indonesia tahun ini yang terkonsentrasi di daerah Kanto-Chubu-Kansai, saya mungkin akan kesepian kalau benar2 ditempatkan di ujung pulau Honshu ini.
Seusai jalan2 di Hirosaki castle dan sekitarnya untuk mencari bangunan2 yang tidak tersentuh efek2 PD II, kami kembali ke stasiun untuk naik kereta yang membawa kami ke Aomori. Sampai di Aomori hari sudah gelap dan perut yang sedari pagi cuma terisi onigiri made in konbini sudah menuntut minta diisi makanan yang bergizi. Maka kami berburu makanan khas Aomori: hotate. Hotate adalah sejenis kerang, bisa ditemui di hampir semua tempat di Jepang, tapi yang paling terkenal di Aomori. Kami menemukan sebuah warung yang menyediakan masakan hotate kira2 lima menit berjalan kaki lurus dari stasiun (namanya lupa). Warung itu kecil saja, tapi luar biasa sibuk. Saat kami asyik mengamati model makanan yang terpajang di luar warung sambil mengira2 mana yang boleh dimakan, beberapa orang pengunjung keluar. Saya perhatikan orang2 keluar dari warung dengan wajah puas. Melihat kami masih ragu2, tanpa diminta mereka memberikan assessment yang bernada positif.
Ternyata memang benar. Kami dilayani dengan gesit oleh seorang ibu yang tampaknya merangkap jabatan sebagai kasir sekaligus pemilik warung. Masakannya maknyuss. Warung selaris ini minim pelayan, pasti pemiliknya kaya. Sambil terkikik2 ngrasani ibu pemilik warung/kasir/pelayan itu, kami menikmati sajian makan malam yang kemudian menjadi salah satu makanan lezat yang sempat kami cicipi selama perjalanan ini.
Sehabis makan, masih ada waktu masih cukup banyak untuk dibuang sebelum kereta malam yang menyeberang dari Aomori ke Sapporo berangkat. Maka mulailah kami menggelandang menelusuri kota Aomori sekitar stasiun. Sebagaimana di bagian lain di Jepang, jam 8 malam toko2 di sini sudah pada tutup dan jalanan sudah sepi. Jadilah kami menyusuri jalanan sambil ketawa-ketiwi seperti orang mabuk. Mabuk udara Aomori yang terasa ramah dan berbeda dari Kanto. Sering dikatakan orang Aomori memiliki hougen alias dialek yang benar2 berbeda dari bahasa Jepang standar sehingga sesama orang Jepang sendiri banyak yang tidak mengerti. Sayangnya selama di sana kami tidak sempat mendapati orang2 lokal bicara dengan dialek Aomori kepada kami. Mungkin karena kami orang asing, jadi mereka berusaha menggunakan bahasa Jepang standar. Dan orang Aomori ramah2. Ketika saya berusaha memotret objek aneh yang banyak ditemukan di sepanjang jalan di sekitar stasiun Aomori, dua orang ibu2 yang lewat serta-merta menghampiri dan tanpa diminta menerangkan hal-ikhwal makhluk aneh yang konon disebut 三内丸山遺跡(さんだいまるやまいせき), makhluk yang katanya sejenis dewa2 dan cukup terkenal dalam kisah2 mitos Jepang. Saya tidak pernah mendengar soal ini, pun ketertarikanku semata2 karena bentuknya yang aneh mirip alien. Tapi saya sangat menghargai penjelasan kedua ibu itu, apalagi ketika mereka berbaik hati menuliskan nama patung itu dalam huruf keriting.

三内丸山遺跡

Begitulah kesan saya terhadap prefektur Aomori. Banyak hal2 kecil yang menarik, berkesan, dan pastinya menjadi pelajaran tersendiri bagi saya yang memang datang ke Jepang untuk mempelajari budaya Jepang.
Menggelandang di Jepang (I)
24 Sep 2009 Tinggalkan sebuah Komentar
in traveling Tag:jalan-jalan di jepang
Keberangkatan
I hate Shinjuku station. There’s just too much crowd, too many shopping malls, cold-faced people rushing towards any directions, yet most of them don’t know most of surrounding buildings’ name. Pernyataan ini mungkin agak berlebihan, apalagi sebagai orang yang lahir dan besar di Surabaya, kota berpenduduk terpadat kedua di Indonesia, harusnya saya sudah terbiasa dengan kerumunan manusia. Tapi begitulah kenyataannya. Kalau saya sebisa mungkin menghindari jalan raya utama, maka saya tidak bisa diharapkan menyukai keramaian di stasiun yang konon tersibuk di dunia itu.
Namun kali ini mau tak mau saya harus ke Shinjuku sebab bus malam yang akan membawa saya ke Aomori berangkat dari sana. Naik kereta dari Tsukuba ke Akihabara disambung JR Yamanote Line turun di stasiun Shinjuku, total waktu yang diperlukan seharusnya tidak lebih dari satu jam. Kenyataannya, perjalanan ke Tohoku-Hokkaido kali ini diawali dengan pacuan adrenalin gara2 penyakit disoriented saya yang parah.
Ceritanya bus malam ini bukan bus JR yang noriba (tempat naik)-nya jelas, mencolok, dan mudah ditemukan, jadi saya harus menemukan sendiri tempat berkumpulnya. Sebenarnya di email konfirmasi telah tertulis jelas tempatnya adalah lantai bawah tanah Shinjuku Center Building, pintu barat stasiun Shinjuku, bahkan lengkap dengan peta. Persoalannya, pintu barat stasiun Shinjuku membuka ke jalan besar yang bisa membuat orang udik lenyap ditelan gedung2 bertingkat dan arus lalu-lalang manusia. Padatnya Shinjuku dan kemampuan navigasi yang lemah adalah kombinasi yang buruk. Tiba2 saja peta di tangan rasanya tidak berguna.
“Cari lorong berbentuk mata,” saran Vindy, teman seperjalanan yang telah tiba lebih dulu di lokasi. Saran yang tidak banyak membantu: bagaimana saya bisa menemukan lorong berbentuk mata bila seluruh gedung di sekitar sini tingginya bikin leher sakit dan dapat diakses dari banyak penjuru? Saya bertanya pada seorang pegawai restoran yang sedang sibuk membagikan brosur di trotoar; dari tampangnya terlihat dia bahkan bukan dari ras mongoloid, dan caranya meminta maaf menunjukkan dia sama asingnya dengan saya di sini. Saya berjalan lagi dan mencoba belok ke sebuah toko pakaian. Seorang perempuan yang sedang mencoba2 baju menjadi target saya. Ia mengerjap, menoleh pada cowok yang datang bersamanya, yang lantas memanggil pemilik toko, yang kemudian menjelaskan rute yang harus saya tempuh. Kedengarannya jauh sekali, jadi ketika saya mencoba mengulang rute itu secara verbal dengan bahasa saya sendiri, si pemilik toko memutuskan saya perlu diantar. Saya beritahu satu rahasia kecil: kebanyakan orang Jepang lebih suka menunjukkan dengan contoh daripada harus menjelaskan berulang2. Dan bila dalam mencari suatu alamat Anda sebagai orang asing menunjukkan keterbatasan kemampuan bahasa Jepang, orang Jepang itu tidak akan segan2 turun tangan mengantar Anda sampai tujuan. Saya berhipotesis itu bukan karena mereka punya waktu luang atau kelewat baik, tapi lebih disebabkan orang asing identik dengan bahasa Inggris, bahasa yang dihindari kebanyakan orang Jepang ^^
Nah, mbak2 pemilik toko itu mengantarkan sampai ke persimpangan jalan (yang sudah tiga kali kulalui) dan memberitahu gedung yang kucari ada di balik persimpangan berikutnya. Saya berterimakasih padanya, menyeberang, tiba di persimpangan yang dimaksud, dan ragu2 lagi. Saya samasekali tidak punya bayangan gedung Shinjuku Center itu seperti apa. Kalau dilihat dari namanya, semestinya itu gedung besar dan mencolok. Namanya juga center, pusat. Tapi penjelasan seorang kakek yang saya cegat mematahkan asumsi itu.
“Gedung yang ada di tengah itu, yang tidak mencolok itulah Shinjuku Center Building,” jelasnya sambil menunjuk ke bayangan gelap di seberang jalan, jauh di belakang sebuah gedung eksentrik yang berdiri penuh gaya di pinggir jalan. Great, pikir saya. Bukan hanya penampilan, nama juga bisa menipu. Sekali lagi saya menelepon Vindy, melaporkan posisi saya, mengikuti instruksinya, dan berusaha berkonsentrasi pada arah gedung itu berada. Di sepanjang jalan yang saya lalui berderet beberapa bus malam berbagai tujuan dan sejumlah besar calon penumpang duduk2 di pinggir jalan. Saya jadi sebal: kalau memang busnya sudah siap berangkat di tepi jalan raya, kenapa calon penumpang mesti berkumpul di tempat yang tidak ada hubungannya dengan lokasi bus itu berada?
Akhirnya, entah bagaimana caranya, saya bertemu Vindy beberapa detik sebelum semua calon penumpang digiring ke loket pemeriksaan tiket dan dinaikkan ke bus. Vindy geleng-geleng sambil menghampiri, saya cuma meringis polos. Setelah pemeriksaan tiket, kami diminta mengikuti petugas menuju bus dan ditunjukkan nomor kursi sesuai daftar. Kursinya tidak terlalu luas, tapi setidaknya bisa direbahkan. Sepanjang perjalanan kami sibuk bertukar cerita tentang kehidupan di kampus masing2 dan nyaris tidak memicingkan mata. Malam itu, petualangan kami pun dimulai…
Menggelandang di Jepang (preambule)
23 Agu 2009 4 Komentar
in traveling Tag:jalan-jalan di jepang
Tentang JR Hokkaido-Higashinihon Pass
Aku baru tahu kalau liburan musim panas di Jepang tidak dimulai secara serempak di seluruh universitas. Di tempatku misalnya, yang membagi tahun ajaran menjadi 3 semester (kalo di kita sih dulu disebut cawu alias caturwulan ~ hadoh hare gene…), liburan musim panas sudah dimulai sejak minggu kedua bulan Juli sampai akhir Agustus, sementara temanku di Osaka University baru bisa nyantai mulai bulan Agustus. Karena program belajarku berakhir pada bulan September, nikkensei di tempatku mendapat bonus liburan musim panas sampe waktunya pulang, which means hampir 3 bulan. Kalo pas gini bersyukur deh jadi nikkensei-nya Tsukuba University, hehe…
Tapiiiii……. berhubung ada jadwal revisi paper dan sebagainya, profesor pendamping program menginstruksikan agar kami menahan diri untuk tidak jauh2 dari Tsukuba selama bulan Juli. Walhasil, bulan pertama liburanku kuhabiskan di kamar dengan membuat origami. Padahal revisinya tu cuma ngoreksi ejaan dan bisa diselesaikan dalam sehari. That was 4 weeks I would never get back T_T
Karena itulah, aku “balas dendam” pada bulan Agustus. Rasanya sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menggelandang naik kereta pake 18 kippu. Dua kali liburan, dua2nya ke arah Chubu-Kansai pake 18 kippu, pada liburan kali ini pengen nyoba sesuatu yang beda. Kebetulan ada Vindy, teman satu program di Gunma University, yang pengen ke Hokkaido. Heuumm…sebenernya sempat terlintas untuk pergi ke Hiroshima-Nagasaki (memperingati bulan kemerdekaan gitu loh) naik pesawat domestik (udah mupeng ga karu2an pengen nyobain pesawat Jepang dalam negeri ^^), tapi Hokkaido kelihatannya cukup menggoda. Apalagi pas musim panas gini butuh nyari tempat yang adem2 seger, hihi… Akhirnya Vindy dan aku sepakat untuk pergi ke Hokkaido dengan cara termurah: Hokkaido-Higashi Nihon Pass.
Pada dasarnya tiket ini tidak jauh berbeda dengan 18 kippu, kecuali coverage-nya, waktunya yang terbatas, dan tidak bisa digunakan berjamaah. Dengan harga 10ribu yen, kita sudah bisa naik kereta JR di daerah Kanto, Tohoku, dan Hokkaido sampe mabok. Tiket ini juga bisa dipake buat nyeberang dari Aomori ke Sapporo naik Kyuukou Hamanasu yang jalan pada malam hari. Kalo pengen enakan dikit, bisa pesan kursi (shiteiseki) dengan nambahin 1770 yen. Tapi berdasarkan pengalaman, jiyuuseki alias kursi bebas udah enak kok, bisa tiduran sambil selonjor2an gitu. Plus bonus dapat kenalan baru tetangga sebelah kalau Anda beruntung, hehehe…
Secara teoretis, dengan tiket ini jarak Tokyo-Sapporo bisa ditempuh dalam 24 jam, tapi cuma orang nekat berbadan sehat plus kurang kerjaan aja yang berangkat dengan cara itu. Lagipula, tiket ini hanya berlaku selama lima hari berturut2, jadi kalo berangkat dan pulang naik kereta lokal, selain dari awal udah capek gara2 naik kereta sehari semalam, waktu untuk main jadi berkurang. Untuk menyiasatinya, kami mengkombinasikan dengan bus malam. Naik bus malam dari Tokyo-Aomori selain menghemat tenaga sehingga keesokan harinya bisa main sepuasnya di daerah Aomori, juga menghemat biaya menginap ^^ Kalau ditotal, biaya perjalanan ke Hokkaido ala bolang ini: tiket Hokkaido-Higashinihon Pass + tiket bus malam + penginapan 2 malam di Sapporo (10,000 + 6,300 + 5,000) = 21,300 yen. Karena perginya berdua, biaya hotel bisa dishare, jadi kena murah banget. Asyik kan, hanya dengan 21ribu udah bisa menempuh Tokyo-Hokkaido PP. Belum termasuk uang makan sih… (ini yang sebenarnya ngempesin dompet T_T)
Cita2 awal sih ke Hokkaido naik shindai alias kereta malam yang keren karena ada tempat tidurnya, tapi berhubung kita juga pengen lihat pemandangan asli desa2 Jepang, kita putuskan cara murah meriah ini yang paling tepat. Alasan lain, kita cuma mahasiswa yang kehidupan sehari2nya tergantung pada angka2 yang ditransfer oleh kementerian pendidikan Jepang ke rekening kami, yang klo udah hari gini deretannya memendek ^^; Kalo udah gini kudu pinter2 memanfaatkan tiket2 murah. Tapi kalau udah tau caranya, tanoshii tabi ni nareru yo. Bahkan berburu tiket & penginapan murahnya aja jadi keasyikan tersendiri…