Sihir Dapur

Tinggalkan komentar

Oktober 2008, saya bikin alarm kebakaran di dapur umum asrama berbunyi. Nasi liwet yang sedang saya masak gosong. Nah, orang yang memahami hakikat nasi liwet akan menggunakan api kecil dan sesekali mengaduk ramuannya. Saya masih (lebih) muda (dari sekarang) dan tidak sebijak itu. Saya pikir ngeliwet cuma soal mencuci beras, menyalakan kompor, lalu voila! Nasi pun matang. Itulah prinsip yang saya pelajari sebagai konsekuensi dari tumbuh besar bersama rice cooker. Akibatnya, saya harus merelakan panci baru gosong bersama makan malam. Tapi yang paling memilukan itu rasa malu karena petugas asrama sampai datang mengecek. Sejak hari itu sampai sekarang, saya tidak pernah coba-coba masak nasi dengan cara tradisional.

Sampai di sini tentu Anda sudah paham seberapa terampil saya di dapur. Saya sih tahu sedikit-sedikit bahan apa yang diperlukan untuk bikin apa, namun jika masalahnya praktek, tolong jangan tanya. Ibu sayalah yang pintar memasak. Sebut apa saja masakan Indonesia, maka beliau akan merapalkan resepnya. Berkat beliaulah saya tumbuh dengan menyukai masakan rumahan, yang dibuat dengan 0% vetsin dan 100% cinta. Sayang saya tidak pernah mewarisi keterampilannya. Pernah saya bersikeras sok-sokan mau masak cah kangkung. Setelah jadi, kangkungnya kematengan, dan rasanya…

“Ini kenapa cuma pedes thok?” seru saya tidak terima. Keringat yang saya teteskan, jam-jam yang saya habiskan mulai dari memetik daun kangkung sampai mematikan kompor… So much for cooking lesson.

“Soalnya udah pake merica masih ditambahi cabe rawit,” jawab Ibu santai. Saya sempat syok mendengar nada Ibu yang menyiratkan beliau tahu, namun sengaja membiarkan saya membuat kesalahan itu. Ada untungnya juga sih, paling tidak sekarang saya tahu untuk tidak menggunakan kedua bahan itu bersamaan kalau tidak ingin mulut terbakar atau mules berkepanjangan.

Setelah itu saya menyerah. Kegiatan memasak terlalu merepotkan. Saya lebih suka tugas luar: belanja, membuang sampah, atau berkebun. Jadi selama bertahun-tahun kami pun membangun kolaborasi harmonis: Ibu membuat daftar belanja, saya berangkat ke tukang sayur. Ibu memasak, saya mencuci peralatan masak. Ibu istirahat, saya makan.

Lulus SD, saya masuk pesantren. Tinggal jauh dari orang tua tidak lantas membuat saya jadi mandiri urusan makan. Untuk beberapa lama saya memanfaatkan layanan catering sederhana yang disediakan pondok. Ketika teman-teman sekamar membentuk tim masak, kontribusi saya hanya sejauh bayar iuran, ngintil pergi ke pasar (tidak bisa dilepas sendiri karena tidak paham beda jahe dan lengkuas), atau mengutak-atik kompor. Saya pernah hidup di zaman kompor gas, yaitu kompor dengan bahan bakar minyak gas alias kerosen, atau yang dalam bahasa nasional disebut minyak tanah. Entah kenapa orang Jawa menyebutnya “minyak gas” padahal ia berwujud cairan. Anyway struktur kompor minyak tanah yang memanfaatkan daya kapilaritas membuat saya takjub. Saya lebih merasakan kepuasan tidak wajar saat mengamati atau ikut membongkar pasang kompor, merapikan sumbu, atau mengisikan minyak, ketimbang saat masak atau bahkan makan.

Nah, kembali ke insiden alarm kebakaran tadi, yang terjadi di zaman kuliah di Jepang, jujur saya tidak ingat bagaimana bisa bertahan hidup dengan kemampuan masak yang memprihatinkan sementara jajan di luar tidak jelas kehalalannya. Yang pasti, setiap pagi saya sarapan roti isi daun selada dan sosis yang diolesi mayones, lalu disiram kopi susu. Untuk makan siang, variasinya antara udon kantin atau onigiri minimarket. Malamnya, kalau sedang rajin, saya menggoreng tenpura udang (selalu dipastikan udangnya produksi Indonesia, yang berukuran paling besar dan harga paling mahal se-supermarket, bukan karena hedon tapi semacam dorongan nasionalisme). Kalau sedang malas, saya menggerayangi lemari bawah TV tempat stok senbei dan biskuit tersimpan. Pada hari-hari ketika bosan, sempat atau ingin memasak, saya akan mengingat-ingat masakan rumah yang sekiranya doable dengan sumber yang tersedia, lalu sms Ibu menanyakan resepnya. Saya sendiri punya resep original yang saya kasih nama isinya tahu. Ini resep kecelakaan. Suatu hari saya setengah mati kepingin makan tahu isi. Karena tekstur tofu yang superlembut dan tidak bisa digoreng, saya coba pakai atsuage (tahu goreng jadi) yang penampakannya mirip tahu goreng kita. Nyatanya, kulit atsuage tidak setangguh tahu goreng Indonesia. Ketika dikerowoki, kulitnya ikutan hancur. Frustasi, sekalian saya lumat dan masukkan kulit itu di campuran isi, lalu saya makan begitu saja. Ternyata rasanya tidak terlalu buruk. Yang kurang tinggal cabe rawit saja. Pun dengan pola makan seadanya begitu, berat badan saya sempat naik empat kilo – tertinggi sepanjang sejarah.

Belakangan sesudah merantau ke Jakarta dan tinggal di kos yang dilengkapi dapur umum, barulah saya tergerak untuk belajar masak beneran. Sebagian karena ingin mengurangi jajan di luar, sebagian karena, well, I like to learn a skill that takes me forever to master because it keeps me busy. Minat baru ini didukung oleh google, aplikasi kumpulan resep, serta bimbingan jarak jauh dari tante. Kadang saya menyesal semasa Ibu masih ada tidak lebih rajin menempel beliau ketika sibuk di dapur sehingga tidak sempat belajar resep keluarga. Baru sekarang saya sadar bahwa memasak dapat menjadi salah satu cara bagi anak untuk tetap terhubung dengan orang tua. Saya juga telat menyadari arti penting lain keterampilan ini; bukan untuk memikat pria, tapi sebagai survival skill, karena makanan adalah satu dari Five Principal Exceptions to Gamp’s Law.

Dulu saya berpikir untuk memasak diperlukan sihir. Bagaimana lagi mengubah daging merah yang liat dan tawar menjadi bakso berwarna kelabu nan empuk dan lezat? Karena mengira ada trik tertentu, saya pernah memutuskan untuk melakukan satu sesi pengamatan menyeluruh terhadap aksi Ibu di dapur. Namun sesudah menyaksikan semuanya, saya kecewa. Saya ingat berkomentar, “Itu aja?” tidak percaya sama sekali bahwa tidak ada tongkat sihir terlibat. Ibu hanya tersenyum. “Iya, gitu aja. Nggak ada rahasia,” katanya. Semua cuma soal reaksi kimia.

Barangkali, barangkali lho ya, sihir yang menyulap masakan Ibu jadi istimewa itu ya cinta. Perasaan seorang Ibu yang ingin menjaga kesejahteraan keluarganya tercurah melalui makanan yang dibuat dengan kedua tangannya. Ini cuma spekulasi sih, dengan begini saya bisa membela masakan (dan harga diri) yang hancur dengan alasan belum ketemu orang yang begitu ingin saya jaga kelangsungan hidupnya sampai saya belain mau masakin pake cinta. *kalem

 

*Draft ditulis tanggal 22 Mei 2016 dalam penerbangan Jakarta-London, meski tidak ada hubungannya dengan perjalanan itu sendiri. I just needed a distraction because the flight was so painfully long that at some point I started to think that the whole journey was not as brilliant an idea as I had thought.

Iklan

Jumatan di Edinburgh

Tinggalkan komentar

Sedari kecil, saya terbiasa berpikir bahwa sholat Jumat itu privilege kaum lelaki. Saya tumbuh besar dengan merasa enggan keluar rumah jam setengah dua belas siang hari Jumat karena pada jam-jam tersebut lelaki di kampung saya, besar-kecil, tua-muda, berbondong-bondong lewat depan rumah menuju masjid. Saya rasa perempuan muslim Indonesia manapun juga begitu. Pendidikan formal tidak mampu menghapus mindset itu. Di SMP dan SMA, sekolah mewajibkan siswa-siswi mengikuti sholat Jumat di sekolah, namun seringnya saya berhasil kabur. Cuek saja meski tahu kewajiban itu disertai dengan ancaman pemeriksaan daftar hadir dan sanksi nilai buat yang absen. Habis kapan lagi bisa pulang sekolah lebih awal dan keluyuran ke alun-alun? Kalaupun ‘terpaksa’ hadir, sampai di rumah saya sholat Dzuhur lagi karena somehow merasa sholat Jumat saya tidak sah.

Sekalinya ikut sholat Jumat beneran ya waktu di Madinah. Saya terkesima: dua jam sebelum adzan, masjid sudah penuh sesak oleh lelaki dan perempuan. Sejak itu saya malah berpikir: kenapa di negeri saya perempuannya bebas ke mana-mana tapi tidak pernah terlihat menghadiri sholat Jumat? Yang kemudian saya jawab sendiri, melalui analisis asal-asalan tentunya, bahwa jika perempuan juga pergi Jumatan maka kantor-kantor akan tutup. Mulanya saya kira karena itu Tanah Suci dan orang tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ibadah di Tanah Suci, jadi di sana lelaki maupun perempuan tumplek blek ke masjid pada hari Jumat siang. Tapi ternyata saya salah.

Bulan Mei lalu saat ke UK, saya memasukkan Edinburgh dalam jadwal. Kebetulan hari terakhir jatuh di hari Jumat, di mana saya tidak punya rencana dari siang sampai jam 3 sore. Kebetulan lagi, tempat saya menginap berada dalam jarak tempuh 20 menit jalan kaki dari Edinburgh Central Mosque. Muncul ide untuk ikut sholat Jumat, tapi ragu apakah diterima. Kan nggak lucu kalau sampai di sana saya celingukan sendirian di shaf perempuan. Untuk amannya, beberapa minggu sebelum berangkat saya melayangkan email ke pengurus masjid untuk bertanya apakah saya boleh ikut jamaah sholat Jumat. Responnya cepat dan hangat (“You are very welcome to join the Jumuah prayer”). Malah saya disarankan datang lebih awal karena hari Jumat biasanya ramai.

Oh, jadi di Edinburgh pun perempuan biasa Jumatan, pikir saya takjub.

Benar saja. Ketika saya tiba di masjid pukul 12.30, ruang wudhu sudah ramai. Padahal khutbah baru dimulai pukul 13.10. Saya pun berwudhu dan ambil posisi sambil mengamati sekitar. Jamaah putri yang saya temui kalau nggak berwajah Asia Selatan, Timur Tengah, ya Afrika. Mereka ngobrol dengan sesamanya dalam bahasa yang tidak saya pahami. Saya mulai berpikir kalau nanti khatibnya berbahasa Tamil atau Tamashek, mending cabut saja. Ternyata khutbahnya dalam bahasa Arab dan Inggris. Fiuh. Lebih lega lagi, isi khutbahnya netral dan adem: bagaimana menjadi muslim yang lebih baik dengan persiapan diri menjelang Ramadhan. Menurut saya beginilah seharusnya khutbah Jumat.

Setelah sholat, pengurus menyampaikan beberapa pengumuman kegiatan masjid sehubungan dengan open house minggu itu dan persiapan menyambut Ramadhan yang akan datang. Si pengurus mendorong especially young sisters untuk berpartisipasi dalam open house berupa acara bulutangkis di halaman masjid sore itu. Saya sempat tertarik, sebelum menyadari betapa petugas itu dengan serius berkali-kali memberi tekanan pada young, membuat saya berpikir seberapa young yang dimaksud (“apakah young at heart termasuk?”) dan apakah saya cukup young untuk memenuhi kualifikasi tersebut.

IMG_20160527_181835_58

Edinburgh Central Mosque. Sejuk melihat budaya Islam sukses kawin dengan arsitektur medieval.

Edinburgh Central Mosque. Sejuk melihat budaya Islam sukses kawin dengan arsitektur medieval.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keluar dari masjid, sambil menyusuri jalan Potterrow saya merenung: jika di Skotlandia yang muslimnya minoritas saja perempuan biasa ikut sholat Jumat, kenapa di negeri bernama Indonesia yang mayoritas malah tidak?

Perempuan Asing dan Mukena

Tinggalkan komentar

Usai tur dan window shopping di galeri Museum Jim Thompson, saya berjalan menyusuri jalan yang cukup ramai oleh para pejalan kaki dan pedagang kaki lima yang mulai membuka lapak (seperti di Jakarta, trotoar di Bangkok juga berfungsi ganda sebagai lahan bisnis). Tujuan saya kali ini adalah Masjid Darul Aman di jalan Petchaburi Soi 7, sekitar 20 menit berjalan kaki.

Tidak disangka masjid ini cukup mudah ditemukan. Baru kali ini saya menemukan tempat yang saya cari tanpa harus bertanya pada selusin orang. Begitu memasuki ruang sholat wanita, saya disambut dua balita yang berlarian riang hanya mengenakan celana piyama dan kaos dalam. Mereka begitu menggemaskan sehingga saya tergoda untuk membawa mereka pulang saat itu juga andai tidak melihat perempuan berpakaian serbahitam duduk di sudut mengawasi dari balik cadar. Menutupi rasa bersalah akibat pikiran yang tidak-tidak, saya menggumamkan salam dan melempar senyum padanya. Dia mengangguk sekilas dan membalas salam saya.

Wanita bercadar itu tidak dapat berbahasa Inggris. Dugaan saya dia dari Turki atau Mesir. Tampaknya ia sudah cukup lama duduk di ruangan ini. Karena tidak berbahasa Turki/Arab, saya hanya dapat duduk tercenung di lantai berlapis karpet hijau, memandangi dia membaca Alquran sambil sesekali berusaha menenangkan anak-anaknya. Saya merasa kesepian dan dilanda keinginan mengajaknya ngobrol. Saya ingin bertanya bagaimana rasanya duduk di ruangan sholat wanita seharian, tidak bertemu siapapun kecuali anak-anaknya, suami yang hanya menengok sekilas dan berbicara dari balik sekat, serta beberapa perempuan lokal yang keluar-masuk dengan cuek seakan tidak menyadari (atau malah sudah terbiasa) dengan kehadirannya. Saya ingin tahu bagaimana rasanya mengenakan cadar dan pakaian hitam serbatertutup di siang bolong dalam ruangan berjendela tertutup di sebuah negeri tropis.

Selagi melamun, tak terasa jam tangan menunjukkan mendekati waktu sholat Maghrib. Saya pun mengeluarkan mukena dari ransel dan bersiap-siap. Saat itulah tiba-tiba wanita bercadar itu mendekat dan meraih mukena dari tangan saya. Ia membolak-balik mukena saya sembari mengeluarkan seruan-seruan yang tidak saya pahami, lalu menatap saya. Apa yang dia pikirkan, diperlukan petunjuk lebih dari sepasang mata indah untuk memperkirakan. Memangnya ada apa dengan mukena saya? Saya menunduk mengamatinya. Oke, warnanya pink. Lalu kenapa? Saya menengadah memandang perempuan itu, yang kembali menunjuk-nunjuk sambil nyerocos dalam bahasanya sendiri. Beberapa perempuan lokal yang mulai berdatangan dan membentuk barisan hanya melirik kami sekilas. Saya nyengir bego. This is a very one-sided conversation. Saya memutuskan untuk menyudahinya dengan angkat bahu sambil memiringkan kepala dan tersenyum meminta maaf. Akhirnya dia mundur, namun saya berani sumpah dia tersenyum di balik cadarnya. Kami lalu bergabung dengan shaf perempuan bermukena putih. Maka petang itu kami menunaikan sholat Maghrib bersama dalam berbagai warna.

Dalam perjalanan kembali ke hostel, wanita bercadar itu menempel dalam pikiran saya. Apa yang telah (atau belum) dia lihat dalam hidupnya sehingga persoalan mukena begitu mengherankannya, saya hanya dapat mereka-reka. Barangkali itu pertama kalinya dia melihat mukena berwarna selain hitam dan putih. Saya tersenyum dalam hati membayangkan bagaimana hebohnya jika dia datang ke Indonesia dan menemukan betapa bhinekanya jenis, model, dan warna mukena di sini. Diam-diam saya bersyukur terlahir menjadi perempuan Indonesia, di mana warna mukena adalah satu dari sekian pilihan yang dapat kami buat secara merdeka.

15 things I wish I had known when I was 15

Tinggalkan komentar

1. What’s better than to be the best is to be better.
2. You can be anything, but you can’t be everything.
3. Your grades are important, but the real test begins after graduation.
4. Not everything you learn at high school will apply in real life. But everything – every single thing – you learn at pesantren will.
5. That I was (and still am) an introvert, and it is not a personality disorder. It is just people like me are risked to being a 2nd class citizen.
6. Having a roadmap to your future is as equally crucial as keeping your mind open to opportunities.
7. Your parents may not be around for long. Listen to them.
8. There is love, and there is infatuation. Know the difference.
9. People won’t stop talking eternally. You, on the other hand, will stop caring eventually.
10. Even Hermione breaks the rule.
11. Exercise regularly. Even if you hate sports. Especially if you hate sports.
12. Essential oils make the best anti-acne moisturizers.
13. Don’t pray that you won’t fall in love with the wrong person. Being able to love, even with the wrong person, is better than not being able to love at all.
14. Go out. Travel a lot. The books may be the window to the world, but you wouldn’t want to spend your life staring out of the window.
15. Everything’s not as bad as it seems. Well, not always.

Musafir Mencari Masjid

2 Komentar

Meski tidak solehah-solehah amat, setiap kali traveling saya selalu usahakan untuk sholat di masjid setempat. Bukan apa-apa sih, cuma rasanya lebih sreg sholat di tempat yang layak daripada di kamar hostel atau di pojokan taman. Sekalian mau mengintip bagaimana gambaran kehidupan muslim lokal. Lagipula, mencari masjid selalu menjadi tambahan warna dalam cerita perjalanan saya.

Kalau saya perhatikan, di Asia Tenggara yang populasi muslimnya lumayan besar, perempuannya lumayan aktif berjamaah di masjid. Memang sih kebanyakan ibu-ibu berumur yang sudah tidak disibukkan oleh anak-anak atau pekerjaan. Kalau di daerah muslim minoritas, yang tampak keluar masuk masjid hanya kaum lelaki. Saya kadang suka miris kalau melihat kondisi ruang sholat perempuan di pojokan; terpencil dan terabaikan. Ketika masuk waktu sholat, kadang jamaah perempuan hanya saya sebatang. Mau tanya-tanya juga tidak mungkin karena tidak ada yang bisa ditanyai, soalnya para lelaki ini cenderung menghindari kontak dengan perempuan non mahram. Mungkin karena di negara muslim minoritas, populasi muslim disumbang oleh imigran yang di negeri asalnya tidak terbiasa membiarkan perempuannya pergi ke masjid.

Berhubung cap imigrasi di paspor saya masih sedikit, saya tidak berhak menggeneralisasi. Saya hanya berani bilang di beberapa tempat yang sempat saya kunjungi, ternyata tidak sulit menemukan masjid. Misalnya di Thailand. Meski populasi terbesar memeluk Budha, cukup banyak juga masjid bertebaran. Selama seminggu di sana, saya ikut berjamaah di masjid lebih sering daripada setahun tinggal di Jepang 😀 Malah pernah di Bangkok dalam sehari saya sholat di tiga masjid yang berbeda – semuanya dalam jarak jalan kaki. Masjid-masjid itu relatif mudah ditemukan, dengan menara dan kubah bahkan halaman, dan komunitas yang meramaikannya pun beragam; ada yang India, Turki, sampai keturunan Jawa (yang tentunya sudah tidak lagi bisa bicara bahasa Jawa).

Lain ceritanya ketika tidak sengaja menemukan masjid di Ayuthaya. Saya sedang bersepeda menyusuri jalan ketika mata tiba-tiba tertumbuk pada lafadz Allah-Muhammad tertempel di salah satu rumah yang saya lewati. Wah, ada komunitas muslim di sini, pikir saya. (Ingat, saya buta huruf akut di Thailand, jadi tulisan Arab itulah satu-satunya petunjuk). Saya balik arah dan berpapasan dengan seorang ibu-ibu berhijab menenteng belanjaan. Nekat saya samperin beliau dan bertanya, dalam bahasa tarzan tentunya, di mana saya bisa numpang sholat Dhuhur. Mula-mula si Ibu memandangi saya dengan mimik lucu, antara heran dan tidak yakin, tapi ketika saya membuat gerakan takbir, beliau langsung ngeh. Nyerocoslah si Ibu dalam bahasa lokal sambil menunjuk-nunjuk sebuah gang. Karena nggak nyambung juga, beliau mengantar saya sampai ke mulut gang, lalu memberi isyarat agar saya terus saja. Gang itu sempit, hanya muat dilewati saya dan sepeda yang dituntun, dan – ya ampun, sepi banget! Saya sudah mau balik badan ketika tetiba gang itu berakhir di pinggir sungai dan terlihatlah sebuah bangunan masjid… di seberang sungai! Saya tolah-toleh, namun sejauh mata memandang tak terlihat jembatan atau jalan lain. Lha, bagaimana caranya saya menyeberang? Hampir seketika, muncullah sebuah sampan yang dikayuh oleh seorang ibu-ibu. Rupanya itulah moda transportasi yang digunakan untuk mencapai masjid dari sini. Saya celingukan lagi mencari seseorang untuk dititipi sepeda karena secara teoretis sepeda sewaan saya itu tidak mungkin ikut numpang, namun si ibu dengan yakin mengulurkan tangan dan sigap mengangkut sepeda saya ke sampannya! Sayang sekali kamera saya ketinggalan di tempat persewaan sepeda, dan saya tidak ingat nama masjid itu. Yang jelas saat itu lepas waktu sholat Jumat, siang terik banget, dan beberapa lelaki tampak leyeh-leyeh di teras masjid. Rupanya budaya leyeh-leyeh setelah sholat berlaku juga di sini.

Yang terbaru bulan Januari 2015 di Sydney. Seperti biasa, sebelum berangkat saya googling dulu dan menyimpan alamat masjid/mushalla di kota yang akan saya kunjungi. Rupanya di Sydney banyak juga mushalla. Saya pun merasa tenang. Eh, pas beneran dicari, kebanyakan alamat yang saya catat itu tidak eksis! Entah penerawangan mbah Google yang meleset atau mushalla-mushalla itu tidak kasat bagi mata saya yang keseringan maksiat. Pada hari ketiga saya baru menemukan satu, yaitu King Feisal Mosque di Commonwealth Street, yang kebetulan hanya 10 menit jalan kaki dari hostel tempat saya menginap. Itupun salah masuk dari pintu lelaki. Menariknya, setiap lelaki yang saya tanyai menunjuk dengan pasti ke sebuah pintu bertuliskan “ladies only” namun tidak tahu di mana letak tempat wudhu wanita. Mereka bahkan tidak yakin ada tempat wudhu wanita.

“Masuk saja, Sister. Kurasa tempat wudhunya ada di suatu tempat di dalam,” kata salah seorang yang saya tanyai.

Kucluk-kucluk saya nekat lewat ruang sholat pria masuk ke pintu Ladies Only. Ternyata memang benar, ruangan sholat wanita sepaket sama tempat wudhu. Bahkan ada peralatan makan dan bak cuci piring segala. Ngomong-ngomong fitur ini juga umum ditemui di ruangan wanita di masjid-masjid di Jepang. Dugaan saya sih fungsinya untuk buka puasa pada bulan Ramadhan. Kembali ke balik pintu Ladies Only tadi, setelah sholat seperti biasa saya menjelajahi ruangan. Saya baru ngeh bahwa pintu masuk khusus perempuan terletak di belakang, tepatnya fire exit. Lha, itu kan pintu satu arah. Artinya yang bisa masuk dari luar hanya yang pegang kunci dong?

Sehari sebelum pulang, saya mencari Darling Harbour mushalla. Menurut Ustadz Google, lokasinya di Erskine Street. Berjalanlah saya di bawah sorot matahari musim panas yang sedang semangat-semangatnya. Alamat tersebut menuntun saya ke bangunan di ujung jalan yang berupa… convenience store. Saya lantas masuk dan jajan. *salah fokus* Eh, kasirnya seorang berwajah Timur Tengah. Usai membayar, saya pun memberanikan diri menanyakan mushalla.

“Kamu mencari mushalla? Mau sholat? Sekarang?” tanyanya antusias. Ya iyalah Om, masa tahun kemarin.

“Kau boleh sholat di sini.”

Beliau menuntun saya ke belakang tokonya, ke lorong yang sepanjang sisinya ditutup rak tempat menyimpan stok barang.

“Sebenarnya ada mushalla di atas, tapi sedang direnovasi jadi sementara tidak bisa digunakan,” jelasnya. Hmm, pantas saja. Tapi kalaupun tidak sedang direnovasi, saya ragu bakal segera menemukannya. Secara di dalam kombini, gitu. Anyway, usai menunjukkan arah kiblat dan wastafel tempat wudhu, beliau kembali ke meja kasir meninggalkan saya untuk bersiap-siap sholat.

Tapi lho, di mana toiletnya? Saya celingukan. Ritual pribadi saya selalu melibatkan toilet sebelum wudhu. Saya pun menghampiri si Bapak lagi untuk minta dipinjemin toilet. Beliau berpikir sejenak, kembali ke lorong gudang tadi, lantas mengosongkan sebuah kardus tempat minuman kaleng. Sebuah pikiran aneh pun melintas. Masa iya saya disuruh pipis di kardus itu? Seriously? Ternyata, kardus itu dipakai untuk mengganjal pintu belakang yang terhubung ke lorong menuju toilet karena pintu tersebut satu arah dan hanya bisa dibuka dari dalam. Oalah!

Drama Visa Australia

6 Komentar

Digantung itu sakitnya tuh di sini! Itulah yang saya rasakan ketika menunggu kepastian hasil permohonan visa Australia saya. Bayangkan saja, meski keputusan sudah keluar, saya mesti menunggu hingga 10 hari untuk mengetahui isinya. Rasanya seperti nembak gebetan, terus dibalas pake surat, tapi suratnya ga nyampe-nyampe. Makan nggak enak, tidur nggak nyenyak, jadi sensi tiap kali ada yang menyebut kata ‘Australia.’ Pokoknya galau maksimal.

Kok bisa begitu? Ya bisa. Masalahnya visa Australia tidak berbentuk stempel atau stiker yang ditempel di paspor seperti umumnya. Penampakannya hanya berupa selembar kertas yang dikirim lewat email atau fax. Permohonan visa juga tidak dilakukan langsung di Kedutaan melainkan lewat AVAC (Australia Visa Application Center). Di Jakarta, AVAC ditangani oleh VFS Global yang berkantor di Kuningan City.

Ngomong-ngomong, ini pengalaman pertama saya mengajukan visa yang murni diurus sendiri. Selama ini udah beberapa kali bikin visa negara lain, tapi semuanya abidin alias atas biaya dinas, jadi tinggal tahu beres saja. Untuk kali ini saya sengaja tidak pakai jasa agen biar pinter dan nambah pengalaman, meski musti rela ribet sedikit. Sedikit? Hmm, that’s debatable.

November 2014 – Persiapan

Saya udah beli tiket murah mampus di bulan September, jauh sebelum mengajukan visa. Nekat ya? Berhubung udah niat banget pergi dari tahun kemarin, tiket yang sudah terbeli tidak bisa direfund, dan biaya visa amit-amit mahal serta konon lama prosesnya, saya mempersiapkan dokumen aplikasi dengan cermat. Berikut ini dokumen yang saya siapkan sesuai status sebagai perempuan pekerja swasta yang single* jaya:

  • Fotokopi KTP, KK, akte lahir, NPWP (tiga yang pertama dokumen standar. NPWP mubah)
  • Fotokopi paspor beserta seluruh halaman yang ada visa dan cap imigrasi
  • Fotokopi buku tabungan 3 bulan terakhir
  • Surat referensi bank dalam bahasa Inggris
  • Print out reservasi tiket, hotel, dan itinerary (sekali lagi tidak wajib, namun tetap disertakan untuk membuktikan keseriusan)
  • Surat keterangan kerja dari kantor dalam bahasa Inggris
  • Pas foto ukuran 3,5 x 4,5 cm latar putih (saya menyerahkan foto berjilbab. Foto dengan penutup kepala masih diterima selama 80% proporsi wajah tampak dan tidak menggunakan cadar atau penutup muka)
  • Formulir aplikasi (total 17 halaman – ini aplikasi terpanjang yang pernah saya isi -_-;)

*Kenapa single disebut-sebut? Yaaa kali aja ada yang nyantol karena kalau Anda perempuan bersuami tapi bepergian sendiri, Anda juga harus menyertakan surat izin dari suami. Udah kayak di Timur Tengah aja nih mesti ngasih surat izin muhrim.

21 November 2014 – Pengajuan

Pagi-pagi saya meluncur ke Kuningan City. ‘Meluncur’ bukan kata yang tepat, ‘merambat’ kali ya. Padahal saya tinggal di Setiabudi dan udah berangkat dari jam 8, eh tetap saja jam 9 lewat sedikit baru nyampe. Pas tiba, gedungnya sendiri masih tutup, tapi kantor VFS sudah buka dari jam 08.30 pagi. Satpam yang baik hati memberitahu saya boleh terus, cari lift nomor 3-4, dan naik ke lantai yang dimaksud.

Begitu pintu lift terbuka, widih… petugas keamanan, alat pemindai, dan kamera CCTV bertebaran di mana-mana. Untuk masuk saja, kita mesti melewati pemeriksaan, hp harus dimatikan, dan pintu tidak bisa dibuka tanpa bantuan petugas. Suasananya udah kayak masuk wilayah negara lain. Coret itu; udah kayak masuk penjara. Rupanya aplikasi visa Inggris dan beberapa negara persemakmurannya juga dikumpulkan di sini. Saya mencari penunjuk arah ke seksi Australia, menunggu dibukakan pintu oleh petugas, lalu masuk. Busyet, ternyata luas juga. Selama ini yang saya tahu, loket penerimaan dokumen aplikasi visa itu kecil, ditutup oleh kaca, dan petugas di dalam berbicara melalui pengeras suara. Di sini counternya terbuka, mirip kalau kita pergi ke agen perjalanan, dan banyak banget! Berderet dari ujung ke ujung dengan pemisahan antara aplikasi pribadi dengan agen.

Pemohon harus menunggu hingga nomor antriannya dipanggil, tapi saya tidak menunggu lama karena baru aja duduk, petugas di dekat saya memanggil. Agak gugup saya menjelaskan bahwa ada beberapa bagian dari formulir yang belum diisi karena nggak begitu nangkep maksudnya, namun petugas dengan baik hati membantu. Biaya pengajuan per November 2014 sebesar Rp. 1,643,000 dengan perincian Rp. 1,460,000 untuk visa dan Rp. 183,000 untuk biaya logistik. Pembayaran dilakukan pada saat dokumen diserahkan. Keseluruhan proses pengecekan dokumen, pembayaran, dan penjelasan apa yang harus dilakukan selanjutnya hanya memakan waktu kurang dari 10 menit. Benar-benar efisien dan manusiawi. Saya yang sudah siap-siap dijutekin pun jadi kecele 😀

Selanjutnya apa? Ya menunggu. Menurut prosedur standar, proses pengajuan memakan waktu hingga 15 hari kerja. Bisa kurang, bisa lebih; tergantung dari kelengkapan dokumen. Selama periode ini cuma bisa banyak-banyak berdoa, soalnya enggak boleh menghubungi baik VFS maupun Kedutaan karena dianggap mengganggu proses. Untuk mengecek sudah sampai di mana aplikasi kita, ada layanan online tracking. Saya baru nyadar bahwa karena dokumen saya diserahkan hari Jumat, permohonan baru masuk Senin, yang berarti ada 2 hari kalender yang menambah panjang hari penantian. Note to self: jangan ajukan permohonan visa pada hari Jumat.

Lewat seminggu setelah aplikasi masuk, saya mulai kepo dan iseng membuka layanan online tracking. Eh, responnya begini:

lacak visa - Untitled

Wah, berarti hasilnya udah keluar dong? Terus gimana? Dikasih? Ditolak? Deg-degan saya buka email. Kosong. Masuk ke spam: ada iklan dari situs booking hostel dan bisnis online saja. Saya balik ke inbox dan refresh, masih belum ada email baru. Ditunggu lima menit, di-refresh lagi, masih bersih aja. Saya aduk-aduk kotak sampah virtual, nihil. Saya mulai senewen. Nyantol di mana nih visa? Saya tunggu sampai sore (mungkin harus nunggu sampai jam kerja berakhir), sampai malam (kali aja si email jalan-jalan ke zona waktu yang berbeda), tapi sampai besok paginya yang masuk hanya iklan kartu kredit. Sedih banget.

3 Desember 2014 – Pengaduan

Keesokan harinya, sesuai petunjuk dari VFS, saya menghubungi mereka via email. Sebelumnya sekali lagi saya jungkir balikkan email untuk memastikan bahwa yang ditunggu memang belum diterima, baik ke inbox maupun ke spam. Beberapa menit setelah saya kirim pengaduan, datanglah respon begini:

balasan - Untitled

What? Mesti menghubungi Kedutaan langsung dan masih harus nunggu 5 hari kerja lagi? Saya menengok kalender. Hari ini Rabu. Kalau 2 hari akhir pekan tidak dihitung, saya mesti nunggu sampai Rabu depan. Aargh! Langsung kasih tau aja kenapa sih? Apes-apesnya kalau ditolak, kan saya bisa berduka untuk alasan yang jelas, terus segera move on -__-

Tidak punya pilihan lain, saya mengikuti petunjuk yang diberikan dan kembali menunggu. Saya butuh pengalih perhatian. Untuk menghibur diri, datanglah saya ke Festival Pembaca Indonesia, di mana saya ketemu Agustinus Wibowo, yang bikin teringat kalau saya belum kesampaian beli bukunya, yang ditindaklanjuti dengan jajan online dan hasilnya dapat bukan hanya satu tapi tiga buku dalam set Titik Nol dkk. Galau memang tidak baik untuk kesehatan finansial.

Seminggu kemudian. Hari penentuan. Sampai di titik ini, saya sudah pasrah. Kalau hari ini hasilnya belum juga diterima, saya mesti mengulang prosedur pengaduan dari awal, yang berarti makan waktu satu minggu lagi. Nunggu, nunggu deh. Untungnya keberangkatan masih sebulan lagi. Memang saya sengaja apply jauh-jauh hari untuk mengantisipasi hal-hal seperti ini. Tapi itu tidak berarti saya layak diperlakukan begini ya… Gak sopan bikin cewek menunggu. (abaikan dua kalimat terakhir)

Sekitar jam 2 siang, HP bergetar. Saya cuekin karena masih sibuk nelponin supplier. Beres dengan urusan kerjaan, saya mikir mau makan siang di mana sambil iseng buka HP. Eh, terbaca potongan subject email baru. Pengirimnya Immigration Dili dengan subjek berawalan RE: INDONESIA ENQUIRY~…  Eh, apa? Apa ini? Buru-buru saya buka.

email - Untitled

Langsung saya meluncur keTKP. Terharu melihat kata “granted” tercetak di halaman yang sama dengan nama saya. Hwaaaa… penantianku berakhir sudah. Tapi tunggu… Kenapa pengirimnya Imigrasi Dili? Bukankah Dili sudah bukan bagian dari Republik Indonesia? Dan kenapa hasil visa yang katanya sudah dikirim sejak 2 Desember tidak pernah sampai ke saya? Ah, siapa peduli? Aplikasi saya diterima!!!

entitlement - Untitled

Lucunya, saya dikasih multiple entries dengan masa tinggal maksimal 3 bulan… berlaku selama 3 bulan. Kedutaan punya selera humor yang menarik 🙂

Saya tanya kiri-kanan, sampai googling segala, tapi sepertinya belum ada yang sharing nasib seperti ini. Jadi kalau Anda sedang atau mau mengajukan visa Australia, sekarang punya gambaran kira-kira apa yang terjadi kalau hasil visa sudah keluar tapi belum diterima. Meski akhirnya visa saya dapatkan juga, saya masih gondok kalau ingat sekarang WN Australia yang mau masuk ke Indonesia malah dibebasvisakan berkat kebijakan terbaru pemerintah RI. Betapa ironis dengan kebalikannya. Apa kabar reciprocal visa?

Belajar Sederhana Dari Kampung Naga

Tinggalkan komentar

Setelah lebih dari enam jam duduk manis dalam mobil yang meluncur nyaris nonstop dari Jakarta kecuali saat mampir ke toilet pom bensin dan tambal ban, tibalah kami di Tasikmalaya. Jam di tangan menunjukkan pukul sebelas, matahari bersinar terang, dan udara terasa cukup gerah meski di daerah pegunungan – pertanda sebentar lagi akan turun hujan. Rombongan kami turun dari mobil lalu berjalan-jalan sebentar meluruskan kaki sebelum menapaki anak-anak tangga menuju perkampungan kecil di bawah bernama Kampung Naga.

Saat pertama kali mendengar namanya, tidak dapat dipungkiri saya penasaran dengan asal nama yang unik ini. Apakah dulunya di tempat ini pernah ditemukan sarang naga? Saya agak kecewa mendengar penjelasan pemandu lokal yang mengungkapkan bahwa nama naga berasal dari bahasa Sunda dinagawir (maaf kalau salah dengar atau eja) yang berarti di bawah tebing. Oh, saya mengharapkan penjelasan yang lebih fantastis!

Kampung Naga dari kejauhan

Kampung ini memang dilindungi oleh benteng alam berupa tebing yang mengelilinginya. Sebelum masuk ke wilayah perkampungan, kita akan bertemu dengan sungai berbatu-batu besar yang mengalir deras menyanyikan musik alam. Satu-satunya akses menuju dunia luar berupa anak-anak tangga sempit yang hanya dapat dilalui oleh manusia berfisik sehat. Kampung ini diapit oleh dua hutan yang disebut Hutan Keramat dan Hutan Larangan. Menurut kepercayaan setempat, kedua hutan tersebut tidak boleh dimasuki. Tidak ada yang tahu ada apa di dalam sana karena belum pernah ada yang berani melanggar larangan adat tersebut, jadi hipotesis saya tentang sarang naga masih terbuka untuk diuji.
Kampung Naga menempati areal seluas 1,5 hektar yang dibatasi oleh pagar bambu. Terdapat 113 bangunan di dalamnya; terdiri dari 108 rumah tinggal, dua rumah kosong, dan tiga bangunan fasilitas umum. Di sekeliling luar pagar bambu dibangun kolam ikan dan beberapa sarana MCK. Sawah penduduk terhampar di belakang kampung hingga batas Hutan Keramat. Tidak ditemui kabel listrik menjuntai, apalagi bendera parpol atau baliho iklan warna-warni. Seluruh pemandangan didominasi warna hijau dan coklat, dengan segitiga-segitiga hitam yang berasal dari atap rumah penduduk.

Salah satu rumah asli di Kampung Naga sebelum insiden 1956

Orang-orang di Kampung Naga konon berasal dari satu garis keturunan dan sudah 17 generasi menempati perkampungan ini. Selain dari ingatan kolektif generasi yang lebih tua, tidak banyak sumber yang bisa diandalkan untuk menggali sejarah kampung ini karena seluruh dokumen tertulis turut musnah saat perkampungan dibakar oleh pemberontak DI/TII tahun 1956. Ketika kami berkunjung ke sana kemarin, total ada 314 orang warga Kampung, terdiri dari 108 kepala keluarga yang masing-masing menempati satu rumah. Kalau tadi saya sebut ada rumah yang kosong, itu pemiliknya sudah meninggal dunia sementara anak-anaknya masih belum cukup dewasa untuk menjadi kepala rumah tangga, jadi dianggap kosong. Karena kampung sudah terlalu padat untuk dibangun rumah baru sementara tidak boleh ada dua keluarga hidup seatap, maka pasangan muda yang baru menikah akan keluar dan tinggal di kampung sekitarnya. Keluarga-keluarga ini secara teratur akan mengunjungi Kampung setiap perayaan upacara adat yang dilakukan enam kali setahun.

Penduduk di sini secara harfiah memenuhi kebutuhan hidupnya dari apa yang disediakan oleh alam sekitar. Dua kali setahun mereka menanam padi untuk memenuhi kebutuhan beras di dapur, memetik sayur dari halaman rumah sendiri, dan memelihara ikan serta ayam untuk sesekali diambil dagingnya saat upacara adat. Di waktu luang, mereka membuat kerajinan dari bambu, kayu nangka, dan batok kelapa untuk dijual kepada tamu yang datang berkunjung. Selebihnya, mereka membuat orang kota iri dengan kemampuan untuk saling bertegur sapa dan senyum saat berpapasan, ikatan kebersamaan yang ku
at, serta kesempatan untuk menikmati keheningan yang hanya ditimpali bunyi gemericik air atau suara serangga. Harmoni adalah kata yang saya pilih untuk menggambarkan keberlangsungan hidup di kampung ini.

Budaya gotong royong masih kuat

Dengan gaya hidup yang begitu basic, tanpa diduga pemikiran masyarakatnya ternyata cukup progresif. Meski tidak secara spesifik menganut budaya matriarkis, hak waris atas rumah jatuh ke tangan anak perempuan atau anak bungsu. Secara kasat mata ini tentu berbeda dengan hak waris dalam Islam, agama yang dianut oleh seluruh penduduk Kampung. Namun dalam logika adat, anak perempuan adalah pihak yang lemah dan patut dilindungi, karenanya mereka diberi hak milik untuk membantu mempertahankan kelangsungan hidupnya. Anak-anak juga tidak dilarang bersekolah, bergaul bahkan menikah dengan orang luar. Mereka yang memutuskan tinggal di kampung lain pun tidak serta merta dianggap terusir. Di sisi lain, mereka yang masuk dan tinggal di Kampung Naga secara otomatis dianggap bagian dari masyarakat kampung ini dan karenanya harus taat pada adat setempat.

Prinsip hidup masyarakat Kampung Naga sederhana saja: hidup itu sederhana. Barangkali itu sebabnya mereka bahagia. Tidak ada yang berprofesi sebagai pegawai negeri, karyawan kantoran, apalagi berambisi duduk di Senayan dengan sikut kiri-kanan. Dengan senang hati mereka membuka pintu untuk orang asing karena memang tak ada barang berharga untuk dicuri. Mereka menerima kemewahan kecil berupa satu unit televisi hitam putih bertenaga accu tanpa sedikit pun terbersit keinginan untuk memiliki televisi yang lebih besar atau setidaknya menampilkan spektrum warna lebih dari dua. Dan marilah kita akui, jika anak-anak tumbuh sehat, rumah sejuk dengan AC alami, kebutuhan perut terpenuhi dari apa yang ditemukan di halaman belakang, tetangga siap menolong dalam kesusahan, apalagi sih yang mau kita minta dari hidup ini?

Older Entries